Kamis, 20 Juli 2017

Batik Tersebut Bernama Hokokai

Apa yang dirasakan pembaca pada saat mendengar kata "Hokokai"? Jujur saja, awalnya ketika saya baru mulai mengenal dunia batik, "Hokokai" bukanlah salah satu kata yang langsung saya asosiasikan dengan batik. Tentu batik kawung, mega mendung, parang, dan keraton sangat akrab di telinga ketika pertama kali mendengarnya. Namun, ada sesuatu yang terdengar asing dari kata "Hokokai." Jadi, biar tidak bingung seperti saya, mari kita sama-sama cari tahu asal usul motif ini Bung!

Mari kita mulai dengan mengingat lagi pelajaran sejarah. Kembali ke era sebelum 1945, Perang Dunia 2, apa yang terjadi di Indonesia saat itu? Ya, kita sedang keras-kerasnya mengusahakan kemerdekaan kita Bung dari Jepang. Pendudukan Jepang ketika itu sangat keras. Jepang terkenal dengan propaganda ideologisnya yang ingin menimbulkan rasa nasionalisme Asia di Indonesia dengan Jepang sebagai pemimpinnya. Salah satu buah propaganda itu adalah sebuah organisasi yang bernama Jawa Hokokai. "Hokokai" sendiri adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti "himpunan pengabdi masyarakat" yang menunjukkan betapa ideologisnya pendudukan Jepang pada waktu itu.

sumber gambar: http://batikdan.blogspot.co.id/2011/07/batik-jawa-hokokai.html


Tak heran, dengan jargon "pengabdian" kepada sang kolonis, batik hokokai memiliki nuansa Jepang yang kental. Ketika itu, awalnya pengusaha khususnya Tionghoa di daerah Pekalongan berusaha mengambil hati penjajah dengan motif yang sesuai selera mereka. Bunga sakura dan kupu-kupu mewarnai kain-kain batik hokokai dan menjadi identitas yang disukai orang-orang Jepang di Indonesia pada waktu itu. Ciri khas lain dari batik tersebut adalah latar belakang (isen-isen) yang sangat detil dan menggunakan motif seperti kawung & parang. Selain itu, batik hokokai umumnya memiliki pola pagi sore yakni satu kain yang berisi 2 motif yang berbeda.

Penggunaan pagi sore memiliki cerita yang agak berbeda. Pasalnya, pada awalnya, batik hokokai digunakan oleh para anggota Jawa Hokokai dan pada perkembangannya, batik hokokai itu sendiri banyak digunakan oleh rakyat miskin Indonesia pada waktu itu. Ternyata, penggunaan motif pagi sore menyebabkan orang bisa memiliki satu kain dengan dua motif yang kontras, sehingga mereka bisa "menghemat" pakaian mereka dengan hanya satu kain.

Kisah lain yang memberi kesan paradoks adalah hasil akhir batik Hokokai itu sendiri. Warna dan pola yang muncul memperlihatkan kegembiraan dan juga sesuatu yang dibuat dengan hati. Detail pada isen-isen dan juga pada susumoyo (bingkai) menunjukkan sebuah karya seni tinggi. Padahal pada waktu itu rakyat Indonesia amatlah menderita dengan pendudukan Jepang yang biarpun hanya tiga setengah tahun namun berdampak sangat besar pada penderitaan rakyat Indonesia.


sumber gambar: http://www.tribaltrappings.com/TIJ104.php

Terlepas dari kisah pahit pendudukan Jepang di Indonesia, batik Hokokai merupakan sebuah pencapaian kultural yang sangat tinggi. Penggabungan antara motif tradisional Indonesia seperti kawung dan parang dengan aksen Jepang dalam bunga dan kupu-kupu menjadi sebuah bukti akulturasi di masa penjajahan Jepang yang cukup singkat. Hal ini menguatkan pendapat bahwa pendudukan Jepang adalah pendudukan ideologis dibandingkan dengan pendudukan Belanda yang berat ke eksploitasi ekonomi. Dari sisi kekayaan artistik, tidak banyak yang bisa menyamai kompleksitas dan keindahan batik Hokokai dengan penggabungan berbagai motif di dalam satu kain. Iwan Tirta, salah satu penggiat batik Indonesia memberi predikat sangat gemilang ketika ditanyai pendapatnya mengenai batik ini, yang dia sebut sebagai "pencapaian."


EmoticonEmoticon